Langsung ke konten utama

Perang Pemikiran: Film sebagai Media Ghazwul Fikri

 

A.      Pendahuluan

Ghazwul fikr merupakan sebuah strategi yang dipakai oleh kelompok-kelompok yang ingin menyerang Islam di masa sekarang, namun cara yang digunakan bukanlah menggunakan senjata atau pun peperangan menggunakan gencatan senjata, namun perang menggunakan pemikiran.

Negara Barat mereprentasikan sebuah kemodernan dan kemajuan pada dirinya, sehingga bagi mereka yang melihat hanya secara logika menganggap hal tersebut sebagai sebuah hal yang positif. Namun dalam kacamata islam, justru mengancam dan cukup mengkhawatirkan.

Dari berbagai sumber literasi dijelaskan, semenjak kekalahan kaum barat dalam perang Salib, kaum yang ingin menyerang Islam tersebut menyadari bahwa al-Quran adalah sumber kekuatan utama, sehingga selama umat muslim masih berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah sangatlah susah untuk dirusak akidahnya. Dari itu, mereka mencoba untuk mencari jalan-jalan lain. Bukan melalui perang yang menghabiskan banyak anggaran biaya, dan pertumpahan darah yang terlihat nyata. Namun melalui jalur yang lebih “soft”, yaitu menggunakan ide-ide pemikiran yang mampu mengubah fundamental pemikiran umat musim. Inilah yang disebut dengan perang pemikiran (ghazw al-fikr), perang tanpa darah, perang tanpa peluru, tapi perang pemikiran, tulisan, ide-ide, argumentasi, propaganda dan perdebatan yang hasilnya cenderung memakan korban yang lebih banyak, karena sebagian besar orang bahkan tidak tahu bahwa mereka telah bergabung menjadi korban perang intelektual tersebut.

 

B.      Media Penyebaran Ghazwul Fikr

1.    Orientalisme

Maksud dari orientalisme adalah kaum barat mempelajari pemikiran dan budaya orang timur untuk bertujuan menjatuhkan Islam, dan mampu menguasai wilayah mereka

2.    Oksidentalisme

Pengkajian tentang dunia dan budaya barat yang dilakukan oleh cendekiawan timur namun hal ini belum cukup untuk membuat islam bangkit. Contoh: Jika muslim melakukan pengeboman dicap sebagai bagian bentuk terorisme, namun jika nonmuslim yang melakukan hanya dianggap sebagai orang dengan gangguan jiwa.

3.     Kajian Agama dengan kacamata "lain"

Di masa sekarang, banyak orang non muslim dari bangsa barat yang melakukan kajian terhadap agama islam melalui Al-Qur’an dan tafsirnya dengan tujuan untuk mencari kelemahan dalam agama islam.

4.    Media massa, Media Sosial

Media Barat membuat pemberitaan yang tidak sebenarnya mengenai negara-negara islam terutama di timur tengah. Sehingga terciptalah image buruk tentang negara-negara timur tengah. Ada contoh lain ghazwul fikri dalam bentuk media, yaitu propaganda bangsa barat yang disusupi melalui film-film hollywod, lagu dan musik, serta lainya.

5.    Pendidikan dengan "spirit barat"

Pendidikan dibuat dengan kurikulum ala barat karena ingin menyiarkan pemikiran-pemikiran dan pola pikir mereka. Selain itu juga terdapat banyak channel-channel dengan konsep pemikiran Barat menggunakan Bahasa Arab, agar pemuda arab mudah terdoktrin.

 

C.   Pembahasan

Dari penjelasan mengenai macam-macam ghazwul fikri di atas dan macam media yang digunakan. Dari semua macam penyebaran ghazwul fikri, yang paling sering dijumpai di era globalisasi ini adalah melalui media massa, baik elektronik, maupun cetak. Menurut Havis Arafik  (2015, 14) ada 7 sarana yang sering dipakai untuk menyampaikan propaganda tersebut, diantaranya: fashion, fun, song, cinema, sex, school, dan foundation. Dari ketujuh sarana tersebut, ada satu yang akan dibahas dalam tulisan kali ini, yaitu terkait dengan cinema atau film.

Film merupakan satu hal yang lekat dengan kehidupan anak muda masa kini , dengan berbagai platform film legal mudah diakses seperti Netflix, Disney Channel, dan Vidio yang harganya cukup terjangkau. Menonton film adalah sebuah kegiatan hiburan yang akrab dengan kehidupan sekarang, terutama semenjak smartphone menjadi sebuah kebutuhan sandang bagi beberapa orang. Bentuk ghazwul fikri dalam media film adalah dengan memasukkan unsur-unsur secularism, berupa budaya porno, selingkuh, dan materialis lainnya.

 Mengambil sample acak dalam aplikasi Netflix milik penulis, 5 dari 7 film yang sedang naik daun garapan produksi original Netfli*, memasukan unsur-unsur tersebut di dalamnya, contoh: Money Heist, Sex Education, You, Elite, dan Bridgerton. Dari kelima film tersebutpun banyak juga yang menyelipkan cerita dan scene terkait LGBT di dalamnya. Menurut Havis Arafik (2015) dalam bukunya yang berjudul Ghazwul Fikri, Pola Baru Menyerang Islam, hal itu dikarenakan film merupakan cara yang efektif untuk mempropagandakan pemikiran, secara halus maupun kasar. Sehingga banyak orang tidak sadar ikut berpengaruh. Mereka nantinya cenderung mengikuti kebiasaan dan keadaan seperti yang digambarkan dalam film. Seperti cara berbicara, berpakaian, bergaul, serta lainnya. Sehingga lambat laun, orang menganggap hal itu menjadi biasa, dan kemerosotan akhlak, etika, moral, dan keluar dari norma agama menjadi hal yang tidak tabu lagi dalam kehidupan bermasyarakat.

 

D.  Penutup

Dari penjelasan singkat di atas mengenai makna, bentuk, media, dan efek dari Ghazwul Fikir, baiknya kita sebagai seorang muslim menjadikah hal itu sebagai bentuk warning untuk diri kita sendiri agar tidak terbuai, dan tidak termasuk dalam orang yang terpengaruh hal-hal tersebut. Terutama perang ini merupakan perang yang banyak orang yang tidak menyadari bahwa telah menjadi korban. Bagi beberapa orang yang menyukai film, kita menjadi salah satu sasaran empuk jika tidak mampu memilih, menimbang, dan bersikap dewasa terhadap apa yang kita tonton. Karena jika diperhatikan, satu film pasti selalu memiliki unsur seperti yang sudah disebutkan sebelumnya. Jangan sampai kita ikut 'menikmati' perang ini.

 Menjauh dan memerangi ghazwul fikri secara terang-terangan mungkin sulit jika dilakukan, namun kita bisa melakukan beberapa kiat agar kita terjaga dalam perang ini. Beberapa hal yang dapat kita lakukan adalah dengan mencintai dan mempelajari agama kita lewat ulama / guru terpercaya, serta tidak lupa untuk menjaga jati diri bangsa, sejarah bangsa, dan cinta pada negara. Indonesia merupakan negara yang banyak memiliki nilai luhur, norma dan sejarah bangsa yang baik, jika kita ikut menjaga kelestarian kebaikan ini, maka kita bisa menangkis dan membentengi diri dari hal-hal yang mampu merusak moral kita. Wallahualam. 

 

 

Referensi:

1.       Kajian Yisc: Ghazwul Fikr, Pemateri: Ust. H. Muhammad Muchson Anasy, MA (Ahad, 3 April 2022)

2.       Havis Arafik, Ghazwul Fikri, Pola Baru Menyerang Islam (2015),

https://www.academia.edu/34027343/GHAZWUL_FIKRI_POLA_BARU_MENYERANG_ISLAM

3.       http://27.123.222.2/bitstream/123456789/728/2/14210581_Publik.pdf

 

 

 #UjianKelasLanjutanYISC #YISCALAZHAR #AlKautsarMenulis #DakwahAlKautsar - Dhea Hanum K.


2022年07月10日

Komentar

Postingan populer dari blog ini

こんしゅうのことば

ミスターポタト 私のこんしょうのことばはこちらです!! ミスターポテトです。 ミスターポテトはたべもののなまえです。 これはポテトチップスです。 あじは バーべキュウ―です。おいしいです。 ちかくの スーパで みつける ことができます。 私もスーパでミスターポタトを かいました。このミスターポテとは一万四千ルピアです。 みなさんもかってください!

Review Viva Sleeping Mask

 Hallo teman-teman, ini tulisan pertama di blog ku yang membahas tentang skincare yang aku pakai. Untuk tulisan pertama ini, aku akan menulis review tentang Viva Sleeping Mask, meskipun ini bukan skincare maupun masker pertama yang aku beli, namun ini salah satu masker dengan harga terjangkau yang katanya cukup worth it untuk dijadikan masker saat malam hari. Aku beli masker ini sekitar awal tahun 2020  dengan keterangan expired yang aku lihat sampai akhir tahun 2022. Aku lupa di harga berapa aku beli, sebenarnya saat liat review di twitter, harganya sekitar 15ribuan, namun pas aku beli di Dandan Store dekat rumah harganya sekitar 20 ribu, dan saat hari ini (3 Okt 2020) aku cek di ecommerce Oren, harganya 23 ribu. Namun karena masih cukup terjangkau, dan review yang aku baca di platform lain bahwa produk ini worth it, aku memutuskan untuk membeli. Apalagi aku cukup cocok dengan milk cleanser dan face tonic dari Viva sendiri.   Pertama, aku ingin review tentang kemasannya,...